Oleh Agus Sutisna/FKIP Biologi/Universitas Galuh/Ciamis
Anak usia sekolah yang sudah bekerja membantu orang tuanya. Mereka berangkat pagi bukan untuk menuntut ilmu tetapi menuntut upah dari majikan mereka di pabrik-pabrik makanan. Usia mereka masih muda. saya merasa tak kuasa melihat mereka dari pagi hingga sore hari letih membungkus setiap pak makanan di pabrik. Mereka juga bekerja dengan asap-asap mengolah makanan di pabrik. Semacam pabrik makanan ringan olahan.
Anak usia sekolah laki-laki dan perempuan. Yang setiap istirahat siang kuliaht mereka mencari rokok dan kopi untuk diminum bersama kawannya di pabrik pembuatan makanan. Rambutnya bercat dengan debu dan tepung yang menempel di baju dinas dan kulitnya. Mereka begitu senang dengan apa yang mereka lakukan. Setiap hari bergumul di pabrik dan sorenya mereka bisa membeli apa saja kebutuhan mereka.
Anak usia sekolah yang sangat potensial. Kita tidak tahu jika mungkin saja diantara mereka ada yang akan menjadi penulis besar macam andrea hirata, darwis tere liye, ahmad fuadi dan habiburrahman alshiraji. Atau semacam asma nadia, dewi dee lestari dan lain sebagainya. Lihatlah otot-otot mereka sudah tumbuh sebelum anak usia sekolah lainnya karean setiap hari ia mengangkat beban berat dan mengaduk-ngaduk bahan makanan olahan. Mungkin saja ada diantara mereka yang akan jadi atlet binargawan atau angkatan bersenjata yang akan membela hak-hak mereka.
Anak usia sekolah yang sudah mengerti mencari uang sendiri. Merasa tak perlu belajar lagi karena uang ada ditangan mereka. meski tidak aku tahui apa yang ada di dalam hati mereka. apakah mereka ingin sekolah lagi? Ingin belajar lagi? Jika saja mereka suka bacaan dari buku-buku ada dirumahku.
Anak usia sekolah yang sudah tidak lagi memakai seragam sekolah. Sudah lama meninggalkan kegiatan pramuka dan peluit dari guru olahraga. Sudah lama tidak lagi memegang buku dan pinsil 2B. Sudah tidak lagi memikirkan pengayaan dan nilai kelulusan rata-rata. Sudah tidak lagi memikirkan apa itu sarjana.
Jika memang seruan untuk meneruskan di sekolah terbuka tidak merata. Maka sangat menyesal sekali mereka tidak kebagian kursi dan meja tulis. Jika memang seruan sekolah terbuka tidak terdengar sampai ke desa-desa. Apa yang akan mereka dengar lagi selain harapan yang hilanh terderus mesin pabrik.
Adik-adikku, kawan-kawan ku yang usiamu masih disebut usia sekolah. Apa yang bisa saya tawarkan pada kalian? Sedang buku-buku dirumah tidak banyak, kebanyakan buku tulis yang jika bersedia kau baca. Saya bersyukur kalian punya facebook. Rupanya kau sudah belajar langsung diluar sekolahan. Facebook bisa kalian jadikan media baca gratis karena sudah banyak layanan seluler yang menggratiskannya. Bacalah apa-apa yang bermanfaat bagi kalian. Dan ajari aku bagaimana menetapi kesabaran dan keikhlasan.
Adik-adikku, kawan-kawan ku yang sangat saya hargai usahamu itu. Di desa kita ada perpustakaan desa pergilah ke sana dan pinjam sama petugas. Atau kalau sungkan mampir di warung yang berlangganan koran. Sambil lesehan dan istirahat makan kalian bisa membaca apa saja yang kalian inginkan. Saya tahu ada potensi besar dari kerja keras dan keikhlasan kalian meninggalkan bangku sekolahan! Selamat berjuang kawan!!
Feb9